SORONG (hidayatullahsorong.id) – Ramadhan selalu punya cara istimewa untuk mengetuk hati. Suasananya beda. Udara subuh terasa lebih sejuk, masjid lebih hidup, dan semangat beribadah seperti mendapat suntikan energi baru. Di momen Ramadhan 1447 H inilah, DPD Hidayatullah Kabupaten Sorong bersama Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong dan DKM Masjid Ahlusshuffah menghadirkan sebuah ruang belajar yang bukan sekadar rutinitas, tapi gerakan: Kajian Subuh Spesial Ramadhan. Kamis, 1 Ramadhan 1447 (19/2/2026)
Bertempat di Masjid Ahlusshuffah, kajian ini digelar setiap ba’da shalat subuh. Saat sebagian orang mungkin masih bergulat dengan rasa kantuk, para jamaah justru memilih duduk melingkar dan menyimak ilmu. Ada semangat yang terasa hangat, semangat untuk tidak hanya berpuasa dari makan dan minum, tetapi juga mengisi jiwa dengan ilmu yang mencerahkan.
Kajian ini menghadirkan Ustadz Kamaruddin, Lc., yang juga menjabat sebagai Kepala Departemen Pendidikan dan Pesantren DPW Hidayatullah Papua Barat Daya, sebagai pemateri utama. Dengan gaya penyampaian yang lugas namun tetap membumi, beliau mengupas isi kitab Shohib Fiqh Sunnah karya Syaikh Abu Malik Kamal Bin Sayiid Salim. Kitab ini dikenal sebagai rujukan fikih yang merujuk kuat pada dalil Al-Qur’an dan Sunnah, sehingga pembahasannya terasa relevan sekaligus mendalam.
Menariknya, kajian ini tidak hanya dinikmati oleh jamaah yang hadir langsung. Di era digital seperti sekarang, dakwah juga bergerak mengikuti perkembangan zaman. Kajian Subuh Spesial Ramadhan ini disiarkan secara langsung melalui akun Facebook Hidayatullah Kabsorong, membuka akses bagi siapa saja yang ingin ikut menyimak meski dari rumah. Ini jadi bukti bahwa dakwah tak lagi terbatas ruang dan waktu akan tetapi cukup dengan gawai di tangan, ilmu bisa sampai ke mana saja.
Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Sorong, Nasruddin, menyampaikan bahwa program ini bukan sekadar agenda Ramadhan biasa. Lebih dari itu, ini adalah langkah strategis untuk menghidupkan kembali tradisi kajian ilmu yang sebelumnya sempat terhenti. Ada semangat untuk membangkitkan kembali budaya belajar di tengah masyarakat, menjadikan masjid bukan hanya tempat singgah salat, tetapi juga pusat peradaban ilmu.
Bagi kalangan muda, kajian ini menjadi ruang refleksi. Di tengah hiruk-pikuk media sosial, tren, dan distraksi digital, duduk sejenak selepas subuh untuk mendengar pembahasan fikih terasa seperti “reset” jiwa. Ramadhan bukan cuma soal menahan lapar, tapi tentang membentuk karakter, memperbaiki kualitas ibadah, dan memperkuat fondasi keislaman.
Kajian Subuh Spesial Ramadhan ini juga menjadi syiar yaitu pesan yang bergema bahwa Islam itu hidup, dinamis, dan relevan. Dari Sorong, semangat itu menyala. Dari saf-saf subuh yang terisi, lahir harapan akan generasi yang tidak hanya rajin beribadah, tapi juga berilmu dan berakhlak.
Ramadhan 1447 H pun menjadi lebih bermakna. Bukan sekadar bulan yang lewat dalam hitungan hari, tetapi bulan yang meninggalkan jejak ilmu di hati para jamaahnya. Dan mungkin, dari kajian-kajian sederhana selepas subuh inilah, perubahan besar justru bermula./nz
Penulis : Abu Naziha
Editor : Nasruddin









