Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
Alhamdulillah, segala puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, para sahabat, serta umatnya hingga akhir zaman.
Para hadirin jamaah kajian yang dirahmati Allah,
Sungguh, waktu berlalu dengan sangat cepat. Kita baru saja melewati bulan Rajab, kini kita berada di penghujung bulan Sya’ban. Artinya, tamu agung yang paling dinanti oleh seluruh kaum Muslimin di penjuru dunia, yaitu bulan suci Ramadhan, telah berada di ambang pintu kehidupan kita. Kita berkumpul pada kesempatan sore hari ini dalam rangka menyambut kedatangan bulan mulia tersebut, sebuah kajian yang kita sebut sebagai Tarhib Ramadhan.
Tarhib Ramadhan bukan sekadar pengumuman kalender, melainkan sebuah seruan jiwa untuk mempersiapkan diri secara totalitas. Ramadhan adalah momentum perubahan, bukan sekadar rutinitas tahunan. Oleh karena itu, kita harus memastikan bahwa Ramadhan tahun ini akan jauh lebih berkualitas daripada Ramadhan-Ramadhan sebelumnya.
***
Bagian Pertama: Hakikat Ramadhan dan Tujuan Utama Puasa
Saudaraku, Ramadhan merupakan madrasah tarbiyah (sekolah pendidikan) yang didirikan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk satu tujuan agung, yaitu membentuk pribadi yang bertakwa. Allah tidak mewajibkan puasa semata-mata untuk menahan lapar dan haus, tetapi untuk mencapai derajat spiritual tertinggi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat ini adalah fondasi utama ibadah puasa. Tujuan akhirnya jelas: “agar kamu bertakwa (la’allakum tattaqun).” Ini berarti bahwa jika seseorang berpuasa selama sebulan penuh, namun tidak ada peningkatan ketakwaan setelah Ramadhan berlalu, maka puasanya hanya menghasilkan lapar dan dahaga saja.
Oleh karena itu, persiapan kita menyambut Ramadhan harus berorientasi pada peningkatan kualitas takwa. Bagaimana kita bisa melatih diri untuk tidak marah, untuk tidak berbohong, untuk menjaga lisan, dan untuk lebih peduli terhadap sesama—semua ini adalah manifestasi dari ketakwaan yang ingin dicapai melalui madrasah Ramadhan.
***
Bagian Kedua: Tiga Pilar Utama Persiapan Menjelang Ramadhan
Untuk menyambut tamu agung ini, tidak cukup hanya dengan membeli bahan makanan atau menyiapkan jadwal berbuka puasa. Persiapan yang sejati melibatkan tiga pilar penting, yaitu ilmu, niat, dan pembersihan diri.
- Persiapan dengan Ilmu dan Pemahaman Syariat
Ramadhan adalah bulan ibadah yang spesifik, yang memiliki rukun, syarat, sunnah, dan pembatal-pembatal yang harus kita pahami. Seringkali, kaum Muslimin melaksanakan puasa hanya berdasarkan tradisi turun temurun, tanpa mendalami fikihnya.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kata ‘īmānan’ (karena iman) dan ‘wa iḥtisāban’ (mengharap pahala) tidak akan sempurna tanpa ilmu. Iman memotivasi, ilmu menuntun bagaimana cara pelaksanaannya. Kita perlu mengkaji ulang tentang tata cara shalat Tarawih yang benar, memahami batas-batas I’tikaf, dan menguasai fikih zakat fitrah. Inilah persiapan keilmuan yang harus kita lakukan di penghujung Sya’ban.
- Memperbarui dan Meluruskan Niat (Ikhlas)
Amal ibadah apapun akan sia-sia jika tidak didasari oleh niat yang benar. Ramadhan harus kita niatkan semata-mata karena Allah, bukan karena ikut-ikutan tren, bukan karena malu kepada tetangga, dan bukan pula karena alasan kesehatan semata.
Imam Nawawi Rahimahullah meriwayatkan Hadits yang sangat fundamental:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perkataan Ulama tentang Niat dan Persiapan:
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata mengenai Ramadhan:
كَيْفَ لاَ يُبَشَّرُ مُؤْمِنٌ بِفَتْحِ أَبْوَابِ الْجِنَانِ، وَكَيْفَ لاَ يُبَشَّرُ مُذْنِبٌ بِغَلْقِ أَبْوَابِ النِّيْرَانِ، وَكَيْفَ لاَ يُبَشَّرُ عَاقِلٌ بِوَقْتٍ تُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ
“Bagaimana mungkin seorang Mukmin tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin seorang pendosa tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak gembira dengan waktu di mana setan-setan dibelenggu?”
Perkataan ini menunjukkan bahwa kegembiraan menyambut Ramadhan adalah fitrah bagi orang beriman. Kegembiraan ini diwujudkan dengan persiapan niat yang suci.
- Pembersihan Fisik dan Mental (Pra-Amal)
Ramadhan adalah bulan balapan amal. Mustahil kita bisa berlari kencang jika masih membawa beban berat.
Contoh Konkret Kehidupan Sehari-hari:
Bayangkan Anda akan mengikuti maraton. Tentu Anda akan melakukan persiapan fisik, diet, dan memastikan tidak ada cedera lama yang menghambat. Demikian pula Ramadhan.
Pembersihan yang dimaksud mencakup:
* Melunasi Hutang Puasa (Qadha): Jika kita masih memiliki puasa wajib yang tertinggal dari tahun sebelumnya, wajib hukumnya untuk melunasinya sebelum Ramadhan tiba. Ini adalah bentuk tanggung jawab dan kesiapan fisik kita.
* Pembersihan Hati: Menghilangkan dendam, iri, dan dengki. Ramadhan akan sangat sulit dijalani dengan hati yang kotor. Kita harus memulai Ramadhan dengan lembaran hati yang bersih dari perselisihan sesama Muslim.
* Pengaturan Jadwal: Tentukan target ibadah yang jelas. Berapa juz yang akan di khatamkan? Berapa kali akan shalat Tarawih berjamaah? Berapa banyak sedekah yang akan dikeluarkan? Tanpa target yang jelas, Ramadhan akan berlalu begitu saja.
***
Bagian Ketiga: Peluang Emas dan Keistimewaan yang Harus Direbut
Mengapa persiapan Tarhib ini begitu mendesak? Karena Ramadhan membawa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan lain. Ini adalah Golden Opportunity yang dijanjikan oleh Allah.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah setan-setan.” (HR. Muslim).
Ini adalah kondisi spiritual yang paling kondusif bagi manusia. Tiga penghalang utama ibadah kita telah disingkirkan oleh Allah:
- Pintu Surga Dibuka: Motivasi kebaikan kita ditingkatkan. Ketaatan terasa lebih ringan.
2. Pintu Neraka Ditutup: Peringatan dan rasa takut akan azab Allah lebih terasa, sehingga kita lebih mudah menjauhi maksiat.
3. Setan Dibelenggu: Godaan dari musuh abadi kita, Iblis dan bala tentaranya, berkurang drastis.
Jika dalam kondisi ini kita masih berat untuk shalat Subuh berjamaah, masih berat untuk membaca Al-Qur’an, atau masih sulit meninggalkan ghibah, maka kita perlu mengoreksi hati kita. Ini berarti musuh terbesar kita saat ini adalah hawa nafsu kita sendiri, bukan lagi godaan dari luar.
Ramadhan memberi kesempatan untuk mengendalikan hawa nafsu, sehingga setelah Ramadhan, kita sudah terbiasa hidup tanpa dorongan kuat dari setan.
***
Bagian Keempat: Meneladani Salaf dalam Menyambut Ramadhan (Kisah Inspiratif)
Bagaimana para pendahulu kita, para sahabat dan generasi Salafus Shalih, menyambut Ramadhan? Mereka adalah teladan terbaik dalam hal kesungguhan beribadah.
Kisah Inspiratif: Doa Enam Bulan
Diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir, salah seorang tabi’in, bahwa para salaf memiliki kebiasaan yang luar biasa:
كَانُوا يَدْعُونَ اللّٰهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ، ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ
“Mereka (para Salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan dengan Ramadhan. Kemudian, mereka berdoa selama enam bulan lagi agar amalan Ramadhan mereka diterima.”
Subhanallah! Enam bulan sebelum Ramadhan, sejak bulan Dzulhijjah/Muharram, mereka sudah mulai berdoa: *“Ya Allah, sampaikanlah usia kami hingga kami dapat merasakan kembali Ramadhan.”*
Ini menunjukkan bahwa bagi mereka, Ramadhan adalah hadiah tak ternilai, bukan beban. Mereka mempersiapkannya dengan perencanaan spiritual yang matang, bukan persiapan yang mendadak.
Apa yang bisa kita petik dari kisah ini?
- Kerinduan yang Mendalam: Ramadhan harus disambut dengan kerinduan, bukan keterpaksaan.
2. Keberlanjutan Ibadah: Mereka tidak hanya fokus pada proses, tetapi juga pada hasil (diterimanya amal). Kita harus menyambut Ramadhan dengan harapan penuh bahwa ibadah kita akan diterima, sehingga kita pun harus beramal dengan sebaik-baiknya.
3. Memperbanyak Doa: Di hari-hari terakhir Sya’ban ini, perbanyaklah doa: Ya Allah, berilah kami kekuatan untuk mengisi Ramadhan ini dengan amalan terbaik.
***
Penutup dan Doa
Para hadirin yang mulia,
Waktu kita sangat terbatas. Ketika Ramadhan tiba, jangan sampai kita menjadi orang-orang yang merugi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ
“Sangat merugi seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan berlalu sebelum dosa-dosanya diampuni.” (HR. Tirmidzi).
Semoga Allah memberikan kita taufik untuk menggunakan sisa waktu di bulan Sya’ban ini dengan maksimal, sebagai ajang pemanasan dan persiapan spiritual, sehingga ketika hilal Ramadhan 1447 Hijriah terlihat, kita telah siap secara lahir dan batin untuk menjadi hamba-hamba yang bertakwa.
Mari kita tutup pertemuan kajian kita ini dengan memohon kepada Allah agar kita termasuk orang-orang yang dipanjangkan umurnya dalam ketaatan dan dipertemukan dengan Ramadhan dalam kondisi terbaik.
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.
Wabillahit taufiq wal hidayah,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Penulis : M. Sanusi, S.Pd.I









